-->


Friday, 22 March 2013

Jabir bin Hajjan: Bapak Kimia Islam Pertama

Siapa yang tidak mengenal ilmu kimia? Bagi para murid jurusan IPA, kimia adalah salah satu mata pelajaran yang sedikit menguras tenaga dan fikiran. Karena tak jarang di dalamnya membahas sesuatu yang sangat kecil bahkan sampai sesuatu yang tidak tampak di mata kita. Rumus-rumus yang menghiasinya pun menyilaukan mata. Memang banyak para murid yang menyukai pelajaran tersebut dan menjadikannya sebuah tantangan yang harus dikerjakan, tapi tak sedikit pula murid yang tidak menyukainya. Namun sejak dua tahun yang lalu, suka atau tidak suka para murid harus mempelajarinya semaksimal mungkin, karena pemerintah memutuskan untuk memasukkanya ke dalam mata pelajaran yang di Ujian Nasionalkan. Siapakah sebenarnya orang besar di balik ilmu rumit tersebut?

Namanya Jabir bin Hajjan. Nama yang tidak dapat dihapus begitu saja dari sejarah Islam. Karya-karya cemerlangnya pun tak bisa hanya dipandang sebelah mata. Sebab sejarah telah menjadi saksi, bahwa Jabir adalah seorang ahli kimia Islam yang begitu berjasa pada dunia ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Oleh karena itu tidak berlebihan jika kita menyebutnya “Bapak Kimia Islam”.

Ibnu Sina: Raksasa Intelektual Muslim

Meninggalkan jejak-jejak tak ternilai di berbagai cabang ilmu. Karyanya meliputi logika, kedokteran, filsafat, matematika, astrologi, teologi, etika, politik, mistik, tafsir, kesusastraan dan musik.
Di Timur dan Barat, namanya begitu gemilang. Kecerdasannya memukau banyak orang. Karya yang dihasilkan sangat monumental dan selalu menjadi rujukan. Tak hanya satu ilmu, ia menekuni banyak bidang. Dari musik, sastra, filsafat sampai kedokteran. Tak aneh, kalau kemudian ia menjadi toggak dan pilar penggerak paling berpengaruh di dunia.
Dialah Ibnu Sina. Nama aslinya Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdullah Ibnu Sina. Ia lahir di Afshana, dekat kota Bukhara (Turkistan) pada 980 M. Ayahnya bernama Abdullah, berasal dari Balkh. Abdullah pernah diangkat sebagai gubernur Samanite, kemudian ditugaskan di Bukhara. Di situlah, Ibnu Sina mengawali pendidikannya.

Kiat Sukses Belajar Kimia


KIMIA itu sukar?

Sering terdengar banyak keluhan bahwa belajar kimia sangat sukar. Di antara beberapa keluhan adalah: Saya tidak cukup cerdas untuk belajar kimia, saya tidak dapat mengikuti jalan pikir kimiawan, saya takut gagal di mata pelajaran kimia, ingatan saya tidak cukup kuat untuk mengingat rumus dan fakta kimia.Yang harus pertama sekali diubah justru pandangan-pandangan keliru tentang Anda sendiri tadi. Pertama sekali Anda harus percaya bahwa Anda mampu untuk belajar kimia. Anda yakin bahwa kalau belajar dengan baik Anda akan sukses. Jadi pada dasarnya belajar kimia tidak berbeda dengan Anda belajar pelajaran lain ataupun Anda belajar naik sepeda.

Yang sangat diperlukan adalah tekad dan keyakinan kuat kalau Anda bekerja dengan baik Anda akan sukses.

Untukmu yang “Mempensiunkan” Dakwah



Dijalan dakwah kita tak mengenal musim gugur

Selalu ada dihati kita musim semi yang ditumbuhi bebunga

Dijalan dakwah kita tak pernah tahu apa artinya “pensiun”

Selalu ada kerja kerja untuk dakwah yang selalu menggelora

Dijalan dakwah kita tak mengenal “wisuda”

Selalu ada ujian-ujian yang tak henti menyapa

Dijalan dakwah kita tak pernah menginginkan banyak gelar

Selalu ada obsesi, bahagia dengan satu gelar, “S.Ps (Sarjana Penikmat 
Surga)”

Buta terhadap Aib Sendiri

Oleh : Gunawan Alfarizi


Setiap insan di dunia ini pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Sebagai insan yang tak pernah luput dari kesalahan dan kealfaan, tentunya kita harus sering sering bercermin ke dalam diri kita sendiri, mengoreksi segala kekurangan yang ada.

Begitu banyak aib pada diri kita yang bisa jadi tidak kita sadari. Sungguh, jika Allah SWT menampakkan aib-aib kita ke permukaan, tentu kita tak akan mampu untuk mengangkat wajah kita. Namun selama ini Allah lah yang memiliki kuasa untuk menutupi setiap aib kita. 

Air Mata


Pernahkah Anda menangis? Saya rasa hampir setiap orang pernah mengalaminya. Air mata itu bisa jadi muncul saat kita ditinggalkan oleh orang-orang yang kita kasihi. Bisa jadi salah satu orang tua yang kita cintai apalagi jika keduanya meninggalkan kita selamanya. Atau mungkin suatu ketika saat pasangan kita, suami atau istri kita melangkah pergi menjauhi kita baik itu sementara atau bahkan untuk selamanya. 

Tak jarang air mata itu muncul ketika kata dan sikap orang–orang di sekeliling kita menyemaikan dan menumbuhkan luka dalam hati kita. Air mata bisa jadi menetes di sudut mata kita saat menyusuri jalan yang biasa kita lewati kita temui peminta-minta tua, anak yang menengadahkan tangan saat jam-jam di mana ia seharusnya sekolah dan sosok apapun yang menerbitkan rasa iba dalam hati kita. 

Ibu, Madrasah Peradaban


Bismillahirrahmanirrahim…
Menjadi seorang Ibu Rumah Tangga sering kali di pandang sebelah mata, hanya sebagai profesi yang tidak menguntungkan kaum wanita. Urusan remeh temeh yang tak jauh  dari  “ dapur”, “sumur” dan “kasur” menjadi alasan para wanita enggan bahkan minder jika ditanya tentang pekerjaan. Apalagi bila wanita yang menjadi seorang ibu ini mempunyai jenjang pendidikan yang tinggi, ada yang memandang kasihan karena  setelah sekolah tinggi-tinggi ternyata “hanya” menjadi seorang Ibu Rumah Tangga.
Di luar dari itu semua, sebenarnya perlu kita sadari bahwa sebuah profesi yang sering di pandang sebelah mata ini bukan hanya sebuah profesi semata. Tapi, sebuah Fenomena kehidupan yang akan membentuk sebuah generasi Robbani. Tak ayal, seorang ibu dalam sebuah rumah tangga sangat berperan penting. Ia bagaikan pilar kekuatan dari kekokohan sebuah keluarga. Kebahagiaan di dalam rumah pun karena adanya peran seorang ibu yang memberikan kasih sayangnya dengan penuh ketulusan, tapi  bisa jadi adanya konflik dalam rumah tangga karena kurangnya peran ibu.